Berita

Koalisi Lawan Disinformasi Pemilu Serukan Akses Data Lebih Terbuka

0

Koalisi Lawan Disinformasi Pemilu mengatakan disinformasi pada Pemilu 2024 masih banyak terjadi karena pemerintah tidak cukup baik menyajikan data-data. Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) dan beberapa anggota dalam koalisi merangkum temuan dan beberapa penyebab masih banyaknya hoaks dalam buku “Gotong Royong Lawan Disinformasi Pemilu, Upaya Multipihak di Indonesia”.

Salah satu penyebab disinformasi dalam Pemilu 2024 adalah akses informasi yang terbatas dari Pemerintah. Mulai dari profil calon hingga hasil pemilu seperti form C1 yang susah diakses. Hal itu membuat masyarakat tidak mendapat informasi yang utuh dan menyebabkan informasi yang beredar tidak benar. Jelang Pilkada 2024, persoalan lama disinformasi bisa saja muncul lagi, tetapi persoalan baru diprediksi juga akan banyak.

“Buku ini diharapkan menjadi pembelajaran jelang Pilkada 2024, yang berbeda Isu-isu pilkada lebih isu-isu lokal. Masalah lainnya, informasi yang sepotong-sepotong dan ada yang sengaja dibuat, itulah yang membuat masyarakat bingung,” kata Peneliti Perludem, Annisa Alfath saat launching buku, di Senayan, Jakarta Pusat (26/8).

Selain itu Anissa menyebut ada tren baru dalam disinformasi yakni toxic positivity atau melebih-lebihkan pasangan calon tertentu. Terlebih pilkada serentak akan diselenggarakan di banyak daerah, tentu potensi hoaks akan semakin besar dengan isu-isu lokal yang beragam.

Pemetaan Masyarakat Antifitnah Indonesia (Mafindo) menunjukkan ada perbedaan gaya hoaks pada tiap pemilu, contohnya pada Pemilu 2014 misalnya, hoaks satu arah dan hanya mengarah kepada satu kandidat. Kemudian, Pemilu 2019 sudah kedua arah, kedua kandidat. Catatan Mafindo pada Pemilu 2019 terdapat 226 total, dengan 133 hoaks menyerang kubu Jokowi-Ma’ruf Amin dan 93 hoaks menyerang kubu Prabowo. Sementara hoaks soal politik pada 2023 terjadi sebanyak 1.292 kasus, lebih banyak dibandingkan hoaks sejenis pada musim Pemilu 2019 sebanyak 644 kasus.

“Peluang yang bisa diusahakan adalah mendorong penyelenggara untuk aksesibel data-data mengenai pemilu. Jadi penyelenggara pemilu di Pilkada 2024 datanya harus lebih mudah diakses,” ucap perwakilan Mafindo Jakarta, Heni Mulyati.

Pegiat demokrasi, Anita Wahid menambahkan buku Gotong Royong Lawan Disinformasi Pemilu menjadi penting bagi masyarakat sebagai contoh menghadapi disinformasi. Anita berharap keberhasilan Koalisi Lawan Disinformasi bisa direplikasi untuk isu-isu lain di luar isu politik. []

AJID FUAD MUZAKI
Ajid Fuad Muzaki adalah seorang peneliti di Perludem, berfokus pada isu pemilu, demokrasi, tata kelola politik, dan media. Ia aktif melakukan penelitian, advokasi, analisis kebijakan, dan studi media tentang berbagai isu strategis yang berhubungan dengan pembangunan demokrasi.

    KPU Sesuaikan PKPU Pencalonan Pilkada dengan Putusan MK

    Previous article

    Dana Kampanye Pemilu 2024 Masih Diliputi Manipulasi dan Ketidakterbukaan

    Next article

    You may also like

    Comments

    Leave a reply

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    More in Berita