98 tahun Sumpah Pemuda menjadi momentum untuk merefleksikan peran generasi muda dalam perjalanan demokrasi Indonesia. Sejak masa perjuangan hingga Reformasi, pemuda memiliki peran penting mendorong perubahan politik. Namun, di tengah berbagai tantangan demokrasi saat ini, keterlibatan anak muda tidak cukup berhenti pada partisipasi elektoral, tetapi juga perlu diwujudkan melalui pengawalan kebijakan dan demokrasi.
Direktur Eksekutif Perludem, Heroik M. Pratama, menilai sejarah demokrasi Indonesia tidak dapat dipisahkan dari peran pemuda dalam mendesak perubahan sistem politik. Namun, ia mengingatkan bahwa demokrasi saat ini menghadapi tantangan ketika aktor-aktor di dalam sistem demokrasi justru mendorong perubahan yang menjauh dari prinsip-prinsip demokrasi.
Menurut Heroik, salah satu persoalan yang perlu menjadi perhatian generasi muda adalah wacana pengembalian pemilihan kepala daerah melalui DPRD yang mengemuka pada akhir 2025. Selain itu, pembahasan revisi Undang-Undang Pemilu juga perlu mendapat perhatian karena akan menentukan arah penyelenggaraan pemilu ke depan.
Ia mengingatkan bahwa pembahasan reformasi pemilu tidak semestinya hanya berfokus pada kontestasi politik. Berbagai putusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait pemilu juga perlu menjadi pertimbangan dalam pembentukan regulasi. Menurutnya, ruang-ruang demokrasi dapat diisi melalui keterlibatan masyarakat dalam menyampaikan aspirasi, mengawasi kebijakan, dan mendorong perubahan aturan yang lebih demokratis.
“Karena itu, generasi muda perlu mengikuti perkembangan pembahasan aturan pemilu dan mengambil bagian dalam mengawal prosesnya,” ujar Heroik dalam diskusi bertajuk “98 Tahun Sumpah Pemuda: Demokrasi, Partisipasi Politik, dan Gerakan Generasi Muda” di Universitas Atma Jaya Jakarta (27/10).
Sementara itu, advokat hak asasi manusia sekaligus dosen Sekolah Tinggi Hukum Indonesia Jentera, Asfinawati, menyebut saat ini merupakan partisipasi generasi muda terbesar sejak reformasi. Hal itu terlihat dalam berbagai demonstrasi yang dikawal pemuda sejak 2019 hingga kini. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa suara-suara kritis masih menghadapi ancaman pembungkaman.
“Kalau masih ada banyak orang yang ditangkap karena suara kritis, kita masih demokrasi apa tidak?” ujarnya.
Campaigner KontraS, Muhammad Bima, mengungkapkan berbagai tekanan yang dihadapi generasi muda, mulai dari kesulitan mendapatkan pekerjaan dan memiliki rumah hingga terbatasnya ruang untuk menyampaikan pendapat. Menurutnya, berbagai persoalan tersebut turut membentuk keresahan anak muda terhadap situasi sosial dan politik saat ini.
“Momentum Sumpah Pemuda dapat menjadi ruang untuk mempertemukan keresahan tersebut dan membangun gerakan bersama,” kata Bima. []








Comments