Wawancara

TITI ANGGRAINI: Kesimpulan Perempuan Lebih Korup Tak Adil Sejak Pikiran

0

Ada anggapan makin tingginya representasi perempuan memperburuk kualitas pemerintahan. Setelah kebijakan afirmasi perempuan diterapkan sebagai buah Reformasi, representasi perempuan cenderung meningkat. Peningkatan jumlah perempuan seperti seiring dengan peningkatan kasus korupsi.

Direktur eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem), Titi Anggraini mengklarifikasi anggapan itu. Menurutnya, menyimpulkan peningkatan representasi perempuan seiring dengan peningkatan kasus korupsi, biasanya disebabkan ketakadilan dalam menilai perempuan berpolitik. Berikut penjelasanannya (21/4):

Ada anggapan representasi perempuan makin ningkat di pemerintahan tapi korupsi makin banyak. Kenapa ini?

Pramoedya Ananta Tur bilang, adilah sejak alam pikir. Jika ada kasus korupsi yang pelakunya lelaki, tak dikaitkan dengan gendernya. Tapi jika ada kasus korupsi yang pelakunya perempuan, langsung dikaitkan dengan gendernya.

Anda mau bilang korupsi tak ada kaitannya dengan gender?

Yang mau saya tekankan, kesimpulan bahwa perempuan lebih korup tak adil sejak pikiran. Kesimpulan semakin banyak perempuan di pemerintahan, korupsi makin banyak merupakan kesimpulan yang tak adil secara berpikir.

Jika merujuk angkanya seperti apa. Mana yang lebih banyak terkena kasus korupsi, lelaki atau perempuan?

Jika merujuk anggota DPR 2009-2014, ada 34 dewan yang pelaku korupsi berdasarkan putusan hukum akhir. 30 lelaki. 4 perempuan. Jumlah perempuan dewan 2009-2014 ada 101. Lelaki ada 459. Secara jumlah lebih banyak dewan lelaki yang pelaku korupsi. Kalau persentase, perempuan 3,9 persen. Lelaki, 6,9 persen. Persentasenya pun lebih banyak lelaki.

Bagaimana baiknya menyimpulkan data itu?

Data itu penting untuk mengklarifikasi anggapan atau pendapat. Jangan sampai kita menyimpulkan atau berpendapat berdasar anggapan. Yang pasti, jelas, afirmasi perempuan merupakan kebijakan untuk perbaikan. Bahwa pemerintahan yang orang-orangnya berasal dari partai politik, dari dulu hingga kini masih didominasi dan dikuasi lelaki.

Anda berpendapat, dengan memperbanyak perempuan masuk, pemerintahan akan semakin baik?

Politik perempuan adalah politik harapan. Dari keadaan partai politik dan pemerintahan yang dikuasi oligarki dan dinasti yang wujudnya adalah lelaki, kehadiran perempuan akan mengubah kekuasaan itu.

Soal kualitas, bagaimana?

Menyesuaikan kuantitas dan kualitas butuh proses. Tapi yang jadi catatan, tuntutan kualitas memang perlu disertakan pada afirmasi perempuan. Tapi bukan berarti kita tak juga mempertanyakan kualitas pada politisi lelaki. Kualitas penting bagi perempuan dan penting juga bagi lelaki. Pertanyakan juga kualitas pada calon dewan atau dewan lelaki. Ingat, pelaku korupsi secara jumlah dan persentase lebih banyak lelaki.

USEP HASAN SADIKIN
Peneliti di Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem). Pada 2016, lelaki kelahiran Banten ini memimpin Tim Redaksi rumahpemilu.org menjadi nominasi mewakili Indonesia dalam “The Bobs-Best of Online Activism” 2016 (Deutsche Welle, Jerman). Usep pun terlibat mengadvokasi perancangan UU Pemilu sebagai koordinator Sub-Komite KeterwakilanPerempuan di “Sekretariat Bersama Kodifikasi UU Pemilu”. Sebelum di Perludem, warga Depok ini aktif dalam isu feminisme di Yayasan Jurnal Perempuan (2009-2012) dan isu hak warga difabel di Helen Keller International Indonesia (2012). Pada 2018-2022, Usep berkesempatan kuliah di Sekolah Tinggi Hukum Indonesia Jentera melalui Beasiswa Munir Said Thalib. Usep biasa berinteraksi melalui media sosial dan email di usep.99@gmail.com.

The Majority of Violation Reports in 2017 Local Elections Come from Candidates’ Campaign Team

Previous article

Gambaran Daftar Pemilih Pilkada 2018

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Wawancara