Berita

Hoax Membuat Penyelenggara Terganggu dan Pemilih Tak Percaya Pemilu

0

Hoax dalam pemilu bukan hanya mengarah pada peserta pemilu dan partai politik saja. Hoax pemilu juga mengarah pada penyelenggara pemilu. Tujuannya untuk mendelegitimasi proses dan hasil pemilu.

“Contohnya hoaks tentang server KPU (Komisi Pemilihan Umum),” kata pegiat Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo), Harry Sufehmi Septiaji kepada rumahpemilu.org (7/12).

Menurut Harry, hoax seputar pemilu termasuk yang terbanyak. Selain itu, tingkat viralnya terbilang cukup tinggi.

Harry menjelaskan, hoax yang mengarah pada penyelenggara pemilu berdampak pada emosi pihak bersangkutan. Kepada penyelenggara pemilu, akan terganggu fokus kerjanya. Kepada masyarakat luas sebagai pemilih akan mempertanyakan legitimasi KPU dan Bawaslu.

“Hoax untuk delegitimasi pemilu makin meningkat frekuensinya jelang pemungutan suara,” tegas Harry.

Lebih jauh, inisiatif masyarakat sipil yang dibuat untuk menjaga kepercayaan pemilu, malah diserang hoax juga. Kawal Pemilu pemilu misalnya, dituduh melakukan edit formulir C1 sebelum masuk ke server KPU. []

USEP HASAN SADIKIN
Peneliti di Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) yang sejak Pemilu 2014 terlibat mengadvokasi keterbukaan data dan informasi pemilu serta menghubungkannya dalam ekosistem Open Government Indonesia dan Open Government Partnership/Global. Usep memimpin Tim Redaksi Rumahpemilu, menjamin informasi pemilu yang kredibel dan imparsial sehingga pernah dinominasikan mewakili Indonesia dalam “The Bobs-Best of Online Activism” 2016 (Deutsche Welle, Jerman). Dalam advokasi undang-undang pemilu, ia terlibat merancang ketentuan hukum keterwakilan perempuan (Koordinator Sub-Komite) dan sistem pemilu bersama koalisi masyarakat sipil untuk kodifikasi undang-undang pemilu. Dalam isu demokrasi digital, Usep mengkoordinir koalisi masyarakat sipil dalam advokasi moderasi konten dan pemantauan media sosial. Sebelum di Perludem, lulusan Universitas Indonesia (2008) dan Sekolah Tinggi Hukum Indonesia Jentera (Beasiswa Munir Said Thalib, 2022) ini aktif dalam isu GEDSI (gender, equality, disability, and social inclusion) di Yayasan Jurnal Perempuan (2009–2012) dan Helen Keller International Indonesia (2012).

Serba-Serbi Sirekap di Pilkada Serentak 2020

Previous article

Tuntaskan Persoalan di TPS

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Berita