Berita

Perempuan Anggota KPU dan Bawaslu Hanya Satu, Komisi II: Kami Memilih Berdasarkan Stock

0

Hanya terpilih satu perempuan anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) dalam komposisi penyelenggara pemilu periode 2017-2022. Evi Novida Ginting Manik untuk KPU dan Ratna Dewi Pettalolo untuk Bawaslu. Hal tersebut disayangkan oleh para pengamat pemilu yang mengharapkan proporsionalitas keterwakilan perempuan.

Anggota Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN), Yandri Susanto, menjelaskan bahwa Komisi II telah berkomitmen untuk mengutamakan perempuan calon anggota apabila kualitasnya sama dengan laki-laki calon anggota. Namun, ketika proses uji kelayakan dan kepatutan, kualitas perempuan calon anggota tak sebaik kualitas laki-laki calon anggota. Menjamin kualitas lembaga, ujar Yandri, lebih diutamakan daripada memenuhi keterwakilan perempuan.

“Kami tidak ingin mengorbankan kualitas lembaga. Ada perempuan yang saat diwawancara suaranya habis. Ada juga yang kalau menjawab tidak pernah melihat ke arah kami, tapi melihat kertas terus. Yang seperti itu masa mau kami pilih?” jelas Yandri, pada diskusi “Mengawal Pemilu Berintegritas: Evaluasi Seleksi Komisioner KPU dan Bawaslu RI serta RUU Pemilu” di Senayan, Jakarta Selatan (6/4).

Saat diskusi, Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem), Titi Anggraini, bertanya apakah Anggota KPU periode 2012-2017 Ida Budhiarti, tak berkualitas. Yandri menjawab, Ida adalah perempuan tangguh dan cerdas. Namun, “Kalau Bu Ida, kita kasian. Kasian Bu Ida, kasian Komisi II karena ribut terus,” seloroh Yandri.

Yandri menerangkan bahwa Komisi II telah memilih penyelenggara pemilu terbaik. Komisi II berharap, penyelenggara pemilu terpilih dapat meningkatkan kualitas pemilu, baik nasional maupun lokal. Penyelenggara pemilu harus memastikan seleksi anggota KPU dan Bawaslu tingkat provinsi dan kabupaten/kota tak berdasarkan hubungan kekerabatan dan pertemanan.

AMALIA SALABI
Pegiat rumahpemilu.org, Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem). Perempuan lulusan Sejarah Universitas Indonesia ini berobsesi menguatkan literasi kepemiluan Indonesia yang tak lepas dari sejarah. Menjadi Presiden Gerakan Intelektual Muda Indonesia (2016-sekarang) dan pengurus Forum Islam Progresif (2018), ia berkeyakinan Islam Indonesia bisa sesuai dengan prinsip kehidupan bernegara demokrasi. Amel biasa berkomunikasi melalui media sosial dan email amaliyahsalabi@gmail.com.

    40 Permohonan Perselisihan Hasil Pilkada 2017 Tak Diterima MK

    Previous article

    Catatan Krusial Perludem akan Seleksi Calon KPU Bawaslu di DPR

    Next article

    You may also like

    Comments

    Leave a reply

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    More in Berita