February 15, 2026

USEP HASAN SADIKIN

USEP HASAN SADIKIN
Peneliti di Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem). Pada 2016, lelaki kelahiran Banten ini memimpin Tim Redaksi rumahpemilu.org menjadi nominasi mewakili Indonesia dalam “The Bobs-Best of Online Activism” 2016 (Deutsche Welle, Jerman). Usep pun terlibat mengadvokasi perancangan UU Pemilu sebagai koordinator Sub-Komite KeterwakilanPerempuan di “Sekretariat Bersama Kodifikasi UU Pemilu”. Sebelum di Perludem, warga Depok ini aktif dalam isu feminisme di Yayasan Jurnal Perempuan (2009-2012) dan isu hak warga difabel di Helen Keller International Indonesia (2012). Pada 2018-2022, alumnus Geografi FIMPA UI ini berkesempatan kuliah di Sekolah Tinggi Hukum Indonesia Jentera melalui Beasiswa Munir Said Thalib. Usep biasa berinteraksi melalui media sosial dan email di [email protected].

Jumlah Perempuan Dewan Indonesia di Bawah Rataan Dunia

Di Hari Demokrasi Internasional (15/9), United Nations Entity for Gender Equality and the Empowerment of Women mengumumkan rata-rata keterwakilan perempuan di parlemen adalah 22,8 persen. Angka yang belum baik karena keterwakilan perempun minimal untuk bisa berdaya mempengaruhi kebijakan adalah 30 …

Read More »

Democracy in Indonesia is Getting Worse

According to Indonesia’s Democracy Index (IDI) which was published on Thursday (09/14) by four different state institutions to celebrate the International Day of Democracy on September 15th, democracy in Indonesia is getting worse. The index accumulation of democracy in Indonesia …

Read More »

Hari Demokrasi Dunia: Demokrasi Indonesia Memburuk

Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) yang dipublikasikan (14/9) empat lembaga pemerintah seiring peringatan Hari Demokrasi Dunia (15/9) menyimpulkan, demokrasi Indonesia memburuk. Akumulasi indeks praktek demokrasi 2016 menurun jadi 70,9 (skala 100) dibanding IDI 2015 pada poin 73,63, atau turun 2,73. Tren …

Read More »

The Dilemma of Increasing the Political Subsidy

Government’s decision to increase the political subsidy for political party has caused a dilemma. Our laws and constitution regard political party as public institution because it plays a key role in the public life by supplying a great deal of …

Read More »

The Paradox of Concurrent Elections in Indonesia

Concurrent elections is implemented so that we can have a more effective presidential system. However, the implementation of concurrent elections in Indonesia might become a paradox if we put it in the context of Indonesian election system as specified in …

Read More »

Paradoks Pemilu Serentak Indonesia

Pemilu serentak (concurrent elections) bertujuan memperbaiki sistem pemerintahan presidensial. Tapi, sistem kepemiluan yang dituang dalam UU No.7/2017 menjadi paradoks. Keinginan agar pencalonan presiden atau keterpilihan presiden mutlak menjadi milik rakyat sebagai pemilih menjadi jauh panggang dari api. Secara teknis, pemilu …

Read More »

Dilema Peningkatan Subsidi Parpol

Peningkatan subsidi kuangan partai politik lahirkan dilema. Konstitusi dan undang-undang menempatkan parpol sebagai lembaga publik karena penyuplai utama pejabat politik. Tapi, keuangan parpol sebagai lembaga publik parpol sangat didominasi bersumber dari pihak privat. Peningkatan subsidi Parpol untuk di keadaan regulasi …

Read More »

Pasal-pasal Bermasalah UU Pemilu

Kompleksitas Pemilu 2019 tak hanya soal keserentakan pemilu eksekutif dan pemilu legislatif tapi juga karena banyak pasal bermasalah dalam undang-undang pemilunya. Pemilu serentak pertama di Indonesia ini tinggi potensi tersendat mengganggu tahapan. Kepercayaan rakyat sebagai pemilih kedaulatan demokrasi terhadap proses …

Read More »

HAMDAN ZOELVA | Gerbang Konstitusi Pemilu Serentak

Kepemimpinan Hamdan Zoelva di Mahkamah Konstitusi hadir di saat yang tepat. Ia menjaga kepercayaan publik terhadap MK pasca-korupsi Ketua MK, Akil Mochtar. Posisi MK sebagai pengadil perselisihan hasil pilkada dan pemilu dijalankan dengan baik oleh Hamdan. Di jelang akhir periode …

Read More »

Hadar Nafis Gumay Sang Bintang Penegak Demokrasi

Anggota Komisi Pemilihan Umum 2012-2017, Hadar Nafis Gumay mendapat penghargaan “Bintang Penegak Demokrasi” dari Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo. Pegiat pemilu dan demokrasi yang lekat dengan kelembagaan Centre for Electoral Reform (Cetro) ini menjadi satu-satunya peraih bintang bidang demokrasi di …

Read More »