BeritaHeadline

Penggunaan E-Voting akan Menjadi Masalah Baru

0

Wacana penggunaan e-voting dalam Pemilu Indonesia kembali muncul. Kali ini menjadi salah satu usulan pada konteks revisi undang-undang pemilu.  Padahal, penggunaan e-voting tidak terhubung dengan kebutuhan perbaikan hasil evaluasi pemilu. Masalah pemilu Indonesia bukan berada pada tahap pemungutan suara melainkan pada tahap penghitungan berjenjang yang amat panjang. Mengubah teknologi rekapitulasi menjadi e-voting, malah akan menjadi masalah baru.

“Ada anggapan jika beralih pada e-voting, kita menjadi lebih maju dalam penggunaan teknologi. Padahal, negara-negara pelaku revolusi teknologi, malah meninggalkan penggunaan e-voting. Di Belanda misalnya, ada gerakan ‘we don’t trust the machine’ karena e-voting tidak menjamin keamanan suara hasil pemilu,” jelas Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem), Heroik M. Pratama dalam diskusi bertajuk “E-Voting: Solusi atau Masalah?”, Jakarta (14/7)

Heroik menyebutkan permasalahan e-voting di banyak negara. Pertama, teknis mesin e-voting bisa tidak memenuhi kerahasiaan sebagai salah satu prinsip pemilu. Kedua, mesin e-voting amat mahal sehingga bisa tidak sesuai dengan tujuan efisiensi keuangan negara.

Ketiga, mesin e-voting yang amat mahal akan signifikan mengurangi jumlah TPS yang berkonsekuensi pada penumpukan atau antrean panjang jumlah pemilih. Keempat, ketidakpercayaan pemilih terhadap proses dan hasil e-voting berkaitan dengan kurangnya waktu persiapan dan kualitas teknologi yang dipilih.

Direktur Eksekutif Netgrit, Hadar Nafis Gumay menekankan bahwa e-voting bukan kebutuhan perbaikan Pemilu Indonesia. Masalah utama kita dalam tahapan pungut hitung suara, jauh lebih banyak pada penghitungan berjenjang. Rekapitulasi suara dari TPS selama ini bukan hanya amat lama tapi juga belum cukup transparan dan akuntabel.

“Proses pemungutan suara dan penghitungan suara di TPS adalah salah satu proses terbaik dari Pemilu Indonesia. Jika kita beralih pada e-voting, kita akan menghilangkan proses terbaik itu,” kata Hadar.

Ahli Teknologi dan Inisiator JagaSuara2024, Reza Lesmana mengingatkan pengalaman panjang penggunakan e-rekap di Indonesia. Jika beralih ke e-voting, bukan hanya memutus pengalaman panjang itu tapi juga menggunakan teknologi pemilu yang waktu dan kesiapannya belum cukup.

“Secara pengalaman teknologi, e-rekap merupakan pilihan yang paling mungkin. Indonesia sudah menerapkan e-rekap sejak Pemilu 2004. Secara umum, masalah dan kesalahan e-rekap pada pemilu sebelumnya, diperbaiki di pemilu berikutnya,” ujar Reza memastikan.

Diskusi media ini ada dalam konteks revisi undang-undang pemilu dan perbaikan pemilu. Salah satunya, Komisi Pemilihan Umum melakukan pembahasan teknologi pemilu e-rekap (Sirekap) dan e-voting. []

USEP HASAN SADIKIN
Peneliti di Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) yang sejak Pemilu 2014 terlibat mengadvokasi keterbukaan data dan informasi pemilu serta menghubungkannya dalam ekosistem Open Government Indonesia dan Open Government Partnership/Global. Usep memimpin Tim Redaksi Rumahpemilu, menjamin informasi pemilu yang kredibel dan imparsial sehingga pernah dinominasikan mewakili Indonesia dalam “The Bobs-Best of Online Activism” 2016 (Deutsche Welle, Jerman). Dalam advokasi undang-undang pemilu, ia terlibat merancang ketentuan hukum keterwakilan perempuan (Koordinator Sub-Komite) dan sistem pemilu bersama koalisi masyarakat sipil untuk kodifikasi undang-undang pemilu. Dalam isu demokrasi digital, Usep mengkoordinir koalisi masyarakat sipil dalam advokasi moderasi konten dan pemantauan media sosial. Sebelum di Perludem, lulusan Universitas Indonesia (2008) dan Sekolah Tinggi Hukum Indonesia Jentera (Beasiswa Munir Said Thalib, 2022) ini aktif dalam isu GEDSI (gender, equality, disability, and social inclusion) di Yayasan Jurnal Perempuan (2009–2012) dan Helen Keller International Indonesia (2012).

Koalisi Minta MK Wajibkan Kuota 30 Persen Perempuan di Penyelenggara Pemilu

Previous article

MBG Watch Desak Program Makan Bergizi Gratis Dihentikan

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Berita