Berita

JJ Rizal: Oligarki Hari Ini Mewarisi Keserakahan Kolonialisme

0

Sejarawan JJ Rizal menyebut buku Seri Lawan Oligarki sebagai pamflet perlawanan terhadap praktik oligarki. Ia menghubungkan persoalan keserakahan kekuasaan saat ini dengan sejarah kolonialisme dan imperialisme yang dahulu dilawan oleh Soekarno dan Mohammad Hatta. Merujuk pidato pembelaan Soekarno, Indonesia Menggugat, Rizal mengatakan kolonialisme dan imperialisme bertumpu pada keserakahan dalam menguasai sumber daya dan kekayaan suatu bangsa.

“Soekarno mendefinisikannya sebagai nafsu serakah,” ujar Rizal dalam diskusi publik dan peluncuran buku Seri Lawan Oligarki: Demokrasi Langsung di Jakarta (28/10). 

Ia menjelaskan, dalam situasi kolonial, keberadaan institusi hukum dan pemilu tidak serta-merta menjamin keadilan bagi masyarakat pribumi. Ia mengutip tanggapan Soekarno yang menggambarkan bahwa polisi, jaksa, hakim, dan gedung pengadilan memang tersedia, tetapi keadilan justru tidak ditemukan.

Rizal juga menyinggung keberadaan lembaga perwakilan kolonial seperti Volksraad dan gemeente yang dinilai tidak memberikan ruang representasi memadai bagi masyarakat pribumi. Ia mengingatkan pemikiran Hatta sepulang dari Belanda, pada 1932 merumuskan bahwa rakyat belum memiliki kedaulatan karena yang berlaku adalah prinsip “daulat tuanku”.

“Untuk melawan kondisi tersebut, Hatta kemudian menerbitkan koran Daulat Rakyat sebagai upaya memperjuangkan gagasan kedaulatan rakyat,” jelasnya. 

Rizal selanjutnya mengaitkan sejarah kolonialisme dengan eksploitasi sumber daya alam yang masih berlangsung hingga saat ini. Ia menyinggung semboyan masyarakat Papua bahwa Papua bukan tanah kosong sebagai bentuk penolakan terhadap logika terra nullius, yakni anggapan bahwa suatu wilayah tidak memiliki penghuni sehingga dapat dikuasai dan dieksploitasi.

Menurut Rizal, saat ini terdapat logika lain yang ia sebut sebagai tempus nullius, yakni anggapan bahwa masa depan seolah-olah tidak lagi memiliki penghuni sehingga sumber daya alam dapat terus dieksploitasi tanpa mempertimbangkan generasi mendatang. Ia menilai, penghabisan sumber daya alam saat ini belum memiliki padanan dalam sejarah Indonesia, bahkan jika dibandingkan dengan praktik tanam paksa pada masa kolonial.

“Waktu yang akan datang dianggap sudah tidak ada orangnya. Hutan sebagai jaminan kita ke masa depan, tambang jaminan kita ke masa depan, dan semua yang menjadi jaminan anak cucu kita itu dihabisi,” pungkasnya. []

AJID FUAD MUZAKI
Ajid Fuad Muzaki adalah seorang peneliti di Perludem, berfokus pada isu pemilu, demokrasi, tata kelola politik, dan media. Ia aktif melakukan penelitian, advokasi, analisis kebijakan, dan studi media tentang berbagai isu strategis yang berhubungan dengan pembangunan demokrasi.

    YLBHI: Oligarki Semakin Parah, Militerisme Masuk hingga ke Ruang Sipil

    Previous article

    You may also like

    Comments

    Leave a reply

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    More in Berita