Opini

Kritis Bermedia Sosial dalam Demokrasi

0

Buat orang muda zaman sekarang, media sosial itu sudah kayak udara. Hidup tanpa TikTok, Instagram, atau nonton Youtube, hampir mustahil bisa. Semuanya jadi bagian rutinitas dan mengisi waktu luang. Lewat platform inilah kita mencari hiburan, memantau tren yang lagi hangat, sampai cari tahu apa yang sedang terjadi di dunia luar.

Di sela-sela konten receh atau hiburan yang kita tonton, algoritma tanpa permisi sering menyisipkan potongan debat politik, pidato tokoh publik, kritikan kebijakan, sampai meme politik yang lagi viral. Sadar atau tidak, politik akhirnya masuk ke ruang privat kita. Bukan karena kita sengaja mencarinya, tapi karena sistem di balik layar yang menyajikannya langsung ke depan mata.

Pelan tapi pasti, kondisi ini mengubah total cara generasi muda melihat isu-isu publik. Kalau dulu pemahaman soal demokrasi banyak disetir oleh media konvensional seperti koran dan TV dengan gaya bahasa yang super kaku, sekarang ceritanya beda. Narasi politik dikemas jauh lebih visual, ringkas, dan interaktif.

Lewat video pendek, utas diskusi yang panjang, sampai kolom komentar yang riuh, gagasan politik digodok dan disebarkan secara masif dalam hitungan detik. Layar HP kita akhirnya berubah jadi gerbang utama untuk melihat bagaimana kekuasaan dan dinamika sosial bekerja. Paparan konten yang masuk nonstop ini bikin batasan antara hiburan harian dan edukasi politik jadi makin abu-abu. Tiap kali jempol kita scrolling di linimasa, kita tidak cuma lagi mengonsumsi tren gaya hidup, tapi juga otomatis menyerap berbagai sudut pandang politik yang berseliweran di ruang digital.

Melampaui viralitas

Salah satu pergeseran paling mencolok bisa kita lihat dari cara para politisi membangun citra diri di mata publik. Dulu, proses ini butuh napas panjang lewat media konvensional, mulai dari masuk TV, pasang baliho besar di tikungan jalan, sampai blusukan kampanye tatap muka. Sekarang? Alurnya melompat jauh banget. Cukup modal video singkat di bawah satu menit yang masuk FYP, seseorang bisa langsung menjangkau jutaan penonton dan mendongkrak popularitasnya dalam semalam.

Layar media sosial sukses ngasih panggung buat para tokoh politik untuk pamer sisi yang lebih santai, manusiawi, dan luwes. Konten yang isinya kegiatan sehari-hari, candaan receh, atau respons kasual terhadap isu yang lagi hangat sengaja dilewatkan berulang kali di timeline kita. Saking seringnya muncul, pelan-pelan muncul rasa akrab dan ikatan emosional di benak kita. Kita merasa seolah-olah sudah kenal dekat dengan sosok tersebut, padahal cuma lewat layar HP.

Tapi, ada jebakannya. Rasa akrab dan popularitas yang dibangun lewat media sosial ini sayangnya sering kali tidak sejalan dengan pemahaman gagasan. Kita jadi cenderung lebih kenal gaya bicaranya, jargonnya, atau visualnya ketimbang isi pikiran dan visi strategisnya. Imbasnya, perhatian kita mudah banget terdistraksi sama kemasan konten yang menarik, sementara program kerja nyata yang mereka tawarkan malah luput dari perhatian.

Media sosial memang menawarkan kebebasan luar biasa bagi siapa saja untuk mengakses informasi apa pun secara mandiri. Namun, kita jangan lupa kalau ada sistem algoritma di balik platform tersebut yang diam-diam merekam kebiasaan kita. Konten yang sering kita kasih like, tonton sampai habis, atau kita komentari bakal terus dimunculkan secara berulang-ulang oleh sistem.

Pola seperti ini berisiko menjebak kita dalam ruang gema (echo chamber). Ini merupakan sebuah ruang informasi yang sangat sempit tanpa kita sadari. Dampaknya, sudut pandang kita jadi terbatas dan kita makin menutup mata terhadap opini lain yang berbeda.

Meski begitu, keterbatasan algoritma ini bukan berarti bikin media sosial otomatis jadi musuh demokrasi. Platform ini justru bisa jadi wadah yang sangat luas bagi generasi muda jika dimanfaatkan dengan benar. Sekarang, orang muda bisa bersuara, menyampaikan pendapat, sekaligus mengedukasi publik dengan sangat mudah. Kita punya panggung langsung untuk mengkritisi kebijakan pemerintah secara terbuka, bahkan mempermudah masyarakat luas untuk mengawal proses politik secara real-time.

Tak Sekedar Klik

Di era digital, wujud partisipasi politik ikut bergeser jadi sesuatu yang jauh lebih praktis dan instan. Keterlibatan kita sering kali cuma diwakili oleh aktivitas jempol di layar ponsel, seperti klik tombol like, share unggahan, atau sekadar berkomentar pada isu yang lagi hangat. Fenomena inilah yang biasa disebut sebagai clicktivism. Ini menjadi bentuk kepedulian politik serba cepat yang memudahkan siapa saja untuk ikut bersuara.

Kemudahan ini di satu sisi memang bagus karena bisa memperluas jangkauan suara publik. Tapi di sisi lain, efektivitasnya dalam menciptakan perubahan sosial yang nyata di dunia nyata masih sering dipertanyakan. Interaksi yang serba cepat ini berisiko bikin kepedulian politik kita cuma berhenti di permukaan. Kita cuma sekadar ikut arus tren percakapan tanpa benar-benar paham apa substansi masalahnya.

Ini jadi bukti kalau partisipasi yang bermakna itu butuh proses yang lebih dalam, tidak cuma modal dorongan emosional sesaat setelah melihat video viral.

Di sinilah berpikir kritis jadi kunci utamanya. Kita butuh kesadaran agar aktivitas digital kita tidak terjebak jadi rutinitas ikut-ikutan yang kosong. Mau meluangkan waktu buat verifikasi kebenaran informasi sebelum share, membedah isi program calon pemimpin secara utuh, serta mendalami dampak dari suatu kebijakan adalah bentuk kontribusi yang jauh lebih berbobot. Selain itu, sikap saling menghargai perbedaan pandangan juga jadi fondasi penting yang menjaga kebebasan berpendapat tetap sehat di tengah keriuhan dunia maya.

Menjelang Pemilu 2029, generasi muda dipastikan bakal jadi salah satu kelompok pemilih terbesar di Indonesia. Fakta ini menempatkan orang muda bukan cuma sebagai penonton atau pengguna media sosial semata, melainkan sebagai aktor kunci yang ikut menentukan kualitas demokrasi. Semua itu ditentukan dari cara kita menerima, menyaring, dan menyebarkan informasi politik sehari-hari.

Pada akhirnya, kesuksesan demokrasi digital tidak bisa diukur dari siapa tokoh yang paling viral atau siapa yang punya followers paling banyak. Yang jauh lebih esensial adalah bagaimana media sosial bisa memicu lahirnya generasi muda yang kritis, paham persoalan publik, dan berani terlibat aktif dalam perubahan. Sebab, ponsel yang ada di genggaman kita hari ini bukan sekadar alat hiburan, melainkan ruang tempat masa depan demokrasi dipertaruhkan. []

SALSA DENTA

Mahasiswa Sosiologi Universitas Brawijaya

SALSA DENTA
Mahasiswa Sosiologi Universitas Brawijaya

    Koalisi Masyarakat Sipil Desak KPU Buka Proses Pencalonan Gibran

    Previous article

    You may also like

    Comments

    Leave a reply

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    More in Opini