Berita

Pilkada 2018, Mayoritas Lahirkan Kepala Daerah Berorientasi  Pelayanan Publik

0

Direktur Eksekutif  Centre for  Strategic  and International Studies (CSIS), Philips Vermonte, mengatakan bahwa hasil Pilkada Serentak 2018 di sejumlah daerah memberikan angin segar bagi demokrasi substansial di Indonesia. Di Jawa Barat, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan misalnya, kepala daerah terpilih merupakan kandidat yang telah terbukti memiliki kemampuan memimpin yang baik dan berkomitmen pada pelayanan publik.

“Ketika mereka lebih memilih Nurdin Abdullah, yang basisnya adalah teknoratis, atau Ridwan Kamil dan Khofifah yang bukan darah biru ormas (organisasi masyarakat),  dia pernah menjadi menteri, ini tanda yang baik,” tandas Philips pada diskusi “Evaluasi Pilkada Serentak 2018” di Hotel Atlet Century, Senayan, Jakarta Selatan (2/7).

Philips memberikan perhatian pada Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sulawesi Selatan. Kemenangan Nurdin Abdullah merupakan bukti bahwa rakyat dapat melawan dinasti-dinasti politik yang telah lama bercokol di Sulawesi Selatan. Tiga kandidat yang berkontestasi di Pilgub Sulawesi Selatan memang memiliki dinasti politik.

“Lawan-lawan yang dikalahkan adalah calon-calon yang dalam konteks Sulsel (Sulawesi Selatan) adalah keluarga dinasti politik. Tapi Prof. Nurdin menang, ini menandakan bahwa pemilih kita mikir, apakah kepala daerah akan memajukan daerahnya,” kata Philips.

Philips memprediksi, calon presiden dan calon wakil presiden pada Pemilu 2024 akan banyak diisi oleh kepala-kepala daerah yang sukses memajukan daerahnya. Presiden Joko Widodo merupakan contoh anak kandung desentralisasi yang berhasil menjadi pemimpin di tingkat nasional.

“Kita akan punya sumber-sumber kepemimpinan nasional dari daerah. Dua kali pemilu ke depan, mungkin pemilu kita sumbernya dari mereka,” tukas Philips.

Terpilihnya kepala daerah yang memiliki rekam jejak kepemimpinan yang  baik  dinilai sebagai efek tular dari munculnya kepala –kepala daerah bereputasi baik seperti Tri Rismaharini, Wali Kota Surabaya.  “Misal, ketika Surabaya baik, pemilih akan membandingkan bahwa  pemimpin kita harus baik seperti di Surabaya atau Bantaeng,” kata Philips.

AMALIA SALABI
Pegiat rumahpemilu.org, Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem). Perempuan lulusan Sejarah Universitas Indonesia ini berobsesi menguatkan literasi kepemiluan Indonesia yang tak lepas dari sejarah. Menjadi Presiden Gerakan Intelektual Muda Indonesia (2016-sekarang) dan pengurus Forum Islam Progresif (2018), ia berkeyakinan Islam Indonesia bisa sesuai dengan prinsip kehidupan bernegara demokrasi. Amel biasa berkomunikasi melalui media sosial dan email amaliyahsalabi@gmail.com.

    2019, Wewenang dan Tugas Bawaslu Perlu Ditopang Dana 10,35 Triliun Rupiah

    Previous article

    Pilkada Serentak Mengevaluasi Pemerintahan Nasional

    Next article

    You may also like

    Comments

    Leave a reply

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    More in Berita