Liputan Khusus

Loloskan Koruptor Nyaleg, Bawaslu Lampaui Kewenangan

0

Koalisi masyarakat sipil menilai Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) telah melampaui kewenangan karena meloloskan koruptor bisa mencalonkan anggota  legislatif. Panitia Pengawas Pemilu di sejumlah daerah mengeluarkan putusan sengketa pencalonan yang meminta Komisi Pemilihan Umum (KPU) di sejumlah daerah terkait untuk tidak membatalkan koruptor yang mencalonkan di Pemilu DPR/DPRD 2019.

“(Sikap Bawaslu) ini termasuk pelampauan kewenangan,” kata Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem), Titi Anggraini dalam konferensi persi di Media Center KPU, Jakarta (16/8).

Titi menjelaskan, penolakan Bawaslu terhadap pelarangan koruptor mencalonkan tak relevan. Hukum berlaku saat ini adalah PKPU No.20/2018 karena sudah diundang-undangkan.

Akademisi Sekolah Tinggi Hukum Indonesia Jentera, Mulki Shader menguatkan pendapat Titi. Dalam menjamin kepastian hukum pemilu, logika dibangun beralur dari undang-undang pemilu yang memberikan kewenangan KPU membuat peraturan, lalu Bawaslu menindaklanjuti melalui Peraturan Bawaslu.

“Bawaslu harusnya tak melakukan pencarian hukum dengan mengabaikan PKPU. MK saja sebagai lembaga tertinggi pemutus undang-undang, menahan diri jika tak ada pasal yang diujikan. Bawaslu juga harus taat azas,” kata Mulki.

Pegiat Network for Democracy and Electoral Integrity (Netgrit), Hadar Nafis Gumay menilai sikap Bawaslu menyerta strukutr pengawas pemilu di daerah membahayakan penyelenggaraan Pemilu 2019. Kompleksitas pemilu serentak pertama Indonesia seharusnya dijalankan sesuai kewenangan dan penghormatan masing-masing lembaga penyelenggara.

“Harusnya Bawaslu menguatkan kepastian hukum penyelenggaraan pemilu dengan menjamin jalannya peraturan dan perundang-undangan pemilu. Bukan malah menolaknya,” kata Hadar.

Akademisi Ilmu Hukum Universitas Andalas, Feri Amsari mengkhawatirkan kemandirian sikap Bawaslu. Sikap Bawaslu menguntungkan sebagian partai politik peserta pemilu.

“Seharusnya Bawaslu bersikap berdasar substansi demokrasi penyelenggaraan pemilu. Salah satunya melindungi pemilih. Jika meloloskan mantan napi korupsi mencalonkan, Bawaslu membiarkan pemilih memilih caleg busuk,” kata Feri.

Pegiat Indonesia Corruption Watch (ICW), Almasjafrini membeberkan data pengulangan prilaku dewan korup setelah terpilih lagi. Sedangkan, pegiat Konstitusi dan Demokrasi (KoDe) Inisiatif, Adelline Syahda mendorong Bawaslu bisa tak mengulang pijakan bersikap yang tak relevan dari peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Anggota KPU, Wahyu Setiawan kecewa dengan sikap Bawaslu. Tindakan strukur Bawaslu di daerah telah mengabaikan PKPU No.20/2018 yang tegas melarang koruptor mendaftar sebagai caleg.

“Kami sangat kecewa, karena Bawaslu daerah dalam hal ini mengabaikan dan tak menghormati PKPU yang sah dan dinyatakan berlaku dan diundangkan,” kata Wahyu.

Sebelumnya Putusan Panitia Pengawas Pemilihan di Aceh dan  Toraja Utara (Sumatera Utara), dan Putusan Bawaslu Sulawesi Utara telah mengabulkan koruptor nyaleg yang menyengketakan pelarangan pencalonannya. Semua putusan ini berpendapat, PKPU No.20/2018 yang melarang koruptor (pedofilia, dan bandar narkoba) nyaleg bertentangan dengan UU No.7/2017 tentang Pemilu dan hak politik yang dijamin dalam UUD 1945. []

USEP HASAN SADIKIN

USEP HASAN SADIKIN
Peneliti di Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) yang sejak Pemilu 2014 terlibat mengadvokasi keterbukaan data dan informasi pemilu serta menghubungkannya dalam ekosistem Open Government Indonesia dan Open Government Partnership/Global. Usep memimpin Tim Redaksi Rumahpemilu, menjamin informasi pemilu yang kredibel dan imparsial sehingga pernah dinominasikan mewakili Indonesia dalam “The Bobs-Best of Online Activism” 2016 (Deutsche Welle, Jerman). Dalam advokasi undang-undang pemilu, ia terlibat merancang ketentuan hukum keterwakilan perempuan (Koordinator Sub-Komite) dan sistem pemilu bersama koalisi masyarakat sipil untuk kodifikasi undang-undang pemilu. Dalam isu demokrasi digital, Usep mengkoordinir koalisi masyarakat sipil dalam advokasi moderasi konten dan pemantauan media sosial. Sebelum di Perludem, lulusan Universitas Indonesia (2008) dan Sekolah Tinggi Hukum Indonesia Jentera (Beasiswa Munir Said Thalib, 2022) ini aktif dalam isu GEDSI (gender, equality, disability, and social inclusion) di Yayasan Jurnal Perempuan (2009–2012) dan Helen Keller International Indonesia (2012).

Bawaslu Bukan Badan Penafsir Peraturan Perundang-undangan

Previous article

KIPP Minta KPU Buka Informasi Riwayat Hidup Bacaleg di DPS

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *