Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) mendorong pendidikan demokrasi menjadi bagian yang terintegrasi dalam proses pendidikan formal. Upaya tersebut dinilai penting untuk memperkuat literasi politik sekaligus membentuk warga negara yang memiliki pengetahuan, kesadaran, dan keterampilan untuk berpartisipasi aktif dalam kehidupan publik.
Direktur Eksekutif Perludem, Heroik M Pratama menilai, demokrasi yang kuat tidak hanya bergantung pada kualitas institusi dan regulasi, tetapi juga pada kapasitas warga negara dalam memahami dan menjalankan nilai-nilai demokrasi. Karena itu, pendidikan demokrasi perlu diberikan sejak dini, terutama kepada generasi muda yang menjadi bagian besar dari populasi Indonesia.
“Sekolah merupakan ruang strategis untuk membentuk warga negara yang jauh lebih demokratis. Sehingga pendidikan demokrasi perlu menjadi bagian yang terintegrasi dalam proses pembelajaran, baik di dalam kelas maupun di luar kelas,” ujar Heroik dalam sambutannya dalam seminar bertajuk “Menumbuhkan Demokrasi dalam Pendidikan Formal” di Jakarta, (7/8).
Untuk mendorong pendidikan demokrasi yang lebih sistematis, Perludem menginisiasi Akademi Demokrasi, sebuah ruang belajar bagi siswa, mahasiswa, dan guru untuk mendalami berbagai aspek demokrasi. Menurut Heroik, pembelajaran tidak hanya membahas prinsip-prinsip dasar demokrasi dan aktor-aktor demokrasi, tetapi juga tantangan demokrasi di ruang digital serta keterampilan untuk berpartisipasi sebagai warga negara.
Selain itu, Akademi Demokrasi juga dirancang sebagai ruang dialog untuk bertukar gagasan, mempertanyakan berbagai persoalan demokrasi, serta merefleksikan pengalaman mereka sebagai bagian dari masyarakat. Dalam program tersebut, Perludem menyusun empat modul bahan ajar, yakni Pengantar Demokrasi, Aktor-Aktor Demokrasi, Demokrasi di Ruang Digital, dan Keterampilan Demokrasi.
“Keempat modul tersebut diharapkan dapat menjadi referensi bagi institusi pendidikan formal dalam mengembangkan pendidikan demokrasi ke depan,” ucapnya.
Heroik menjelaskan, selain proses pembelajaran, peserta Akademi Demokrasi juga diberi ruang untuk menuangkan pengalaman, kegelisahan, refleksi, dan rekomendasi melalui tulisan. Kumpulan tulisan tersebut kemudian dihimpun dalam Bunga Rampai Akademi Demokrasi, menjadi rekam jejak proses pembelajaran sekaligus kontribusi para alumni.
“Beragam isu dibahas, mulai dari partisipasi generasi muda, pendidikan politik, demokrasi di ruang digital, keterbukaan informasi publik, kesetaraan representasi politik, hingga pengalaman berdemokrasi dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya.
Lebih lanjut, keberagaman perspektif dalam bunga rampai tersebut menunjukkan bahwa demokrasi tidak semata-mata berlangsung di dalam institusi politik, tetapi juga hadir dalam keseharian warga negara. Demokrasi, dalam konteks tersebut, menjadi bagian dari daily life of politics atau praktik politik dalam kehidupan sehari-hari.
Perludem berharap pendidikan demokrasi dapat terus dikembangkan sebagai bagian penting dari pendidikan formal. Dengan demikian, sekolah dan institusi pendidikan tidak hanya menjadi ruang untuk memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga tempat membentuk warga negara yang mampu memahami, mempraktikkan, dan menjaga demokrasi. []










Comments