Berita

Banyak Negara Belajar Pemilu ke Indonesia

0

Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI, Arief Budiman mengatakan, masyarakat Indonesia patut berbangga dengan penyelenggaraan pemilu di Indonesia. Sistem dan managemen pemilu Indonesia diadopsi negara seperti Myanmar, Malaysia, Tunisia, Kamboja, Filipina, dan Timor Leste.

“Kita dihargai banyak negara karena mengatur begitu banyak hal,” kata Arief  pada diskusi media di Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta (23/11).

Arief menjelaskan, Myanmar salah satu negara yang banyak belajar dengan Indonesia. Pascatransisi dari pemerintahan militeristik, Myanmar menyelenggarakan pemilu. Pemilu Indonesia menjadi model pembelajaran.

Lalu, selain Myanmar, ada Malaysia. Negara parlementer ini mengadopsi regulasi kampanye dan anggaran pemilu Indonesia.

“Tunisia, mengadopsi regulasi pemilu akses. Di PKPU (Peraturan KPU), aturan TPS (Tempat Pemungutan Suara) akses itu lengkap. Pintu harus lebar srkian samapai sekian meter, harus ada huruf braille, dan sebagainya,” ujar Arief.

Selain itu, sistem informasi kepemiluan seperti Sistem Informasi Data Pemilih (Sidalih), Sistem Informasi Pencalonan (Silon), Sistem Informasi Logistik (Silog), dan Sistem Informasi Penghitungan Suara (Situng) dipelajari oleh beberapa negara Asia Tenggara, seperti Filipina, Timor Leste, dan Kamboja.

“Saya bertemu dengan negara-negara se Asia Tenggara. Filipina, Timor Leste, akan mngirim stafnya ke Indonesia untuk belajar sistem informasi yang digunakan dalam pemilu. Ada juga Kamboja, dia minta KPU RI melatih anggotanya,” kata Arief.

Dampak yang akan dirasakan oleh lembaga kepemiluan di Indonesia, menurut Arief, adalah ditariknya bantuan dana asing untuk pengembangan demokrasi di Indonesia. Dana dialihkan ke negara-negara krisis demokrasi. []

USEP HASAN SADIKIN
Peneliti di Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem). Pada 2016, lelaki kelahiran Banten ini memimpin Tim Redaksi rumahpemilu.org menjadi nominasi mewakili Indonesia dalam “The Bobs-Best of Online Activism” 2016 (Deutsche Welle, Jerman). Usep pun terlibat mengadvokasi perancangan UU Pemilu sebagai koordinator Sub-Komite KeterwakilanPerempuan di “Sekretariat Bersama Kodifikasi UU Pemilu”. Sebelum di Perludem, warga Depok ini aktif dalam isu feminisme di Yayasan Jurnal Perempuan (2009-2012) dan isu hak warga difabel di Helen Keller International Indonesia (2012). Pada 2018-2022, Usep berkesempatan kuliah di Sekolah Tinggi Hukum Indonesia Jentera melalui Beasiswa Munir Said Thalib. Usep biasa berinteraksi melalui media sosial dan email di [email protected].

KPU Magelang: Dari Sembilan Partai, Hanya PPB dan Idaman yang Mendaftar Ulang

Previous article

Calon Jalur Perseorangan Mustahil Ada di Pilkada Jawa Barat 2018

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Berita